Peluang dan Tantangan Pengelolaan Hutan Produksi Menuju Lestari Ekonomi, Sosial, dan Ekologi

Hari Jumat tepatnya pada tanggal 17 Maret 2023 jam 13.00 – 15.00 WIB telah dilaksanakan Kuliah Umum secara online melalui zoom meeting. Kuliah umum ini diberikan untuk Mahasiswa S1 Jurusan Kehutanan Universitas Lampung, tepatnya untuk Mata Kuliah Manajemen kehutanan dan dihadiri oleh 183 peserta terdiri dari Mahasiswa dan dosen dari dalam maupun luar Universitas Lampung. Tema yang diangkat pada Kuliah Umum ini adalah Peluang & Tantangan Pengelolaan Hutan Produksi Menuju Lestari Ekonomi, Sosial, Dan Ekologi. Acara Kuliah Umum ini di buka oleh MC yaitu Lutfi Nur Latifah (Mahasiswa Jurusan Kehutanan angkatan 2020) dan dipandu oleh Dosen PJ dan Pengampu MataKuliah Manajemen Hutan yang juga merupakan Guru Besar Ilmu Manajemen Hutan Universitas Lampung yaitu Prof. Dr. Ir. Christine Wulandari, M.P., IPU.

Kegiatan Kuliah Umum ini diawali dengan pembukanaan oleh Ketua Jurusan Kehutanan yaitu Dr. Indra Gumay Febryano, M.Si. Selanjutnya pemaparan materi oleh Prof Christine tentang “ The 5 Capital Assets “ atau 5 Capital yang telah dijelaskan sangatlah penting dan  tidak dapat dipisahkan ketika pengelolaan hutan lestari diimplementasikan. Selanjutnya materi kuliah umum diberikan oleh Bapak Ir. Purwadi Soeprihanto, S.Hut., ME Selaku sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI). Dalam kuliah umum ini beliau menjelaskan secara holistik tentang Peluang dan Tantangan Pengelolaan Hutan Produksi, sekaligus Overview pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun 1993  hingga tahun 2021. 

Build forward batter dijelaskan oleh Purwadi bahwa memiliki 6 strategis  diantaranya yaitu; Strategis 1, SDM berdaya saing (sistem kesehatan, Pendidikan (system Pendidikan dan Pendidikan karakter, riset dan inovasi). Kemudian Strategi 2, 

Produktivitas sektor ekonomi (industrialisasi, produktivitas UMKM, modernisasi pertanian, dan ekonomi biru) dan Strategi 3, ekonomi hijau (ekonomi rendah karbon dan ekonomi sirkular, transisi energi) serta Strategi 4, tranformasi digital (infrastruktur digital, pemanfaatan digital, dan penguatan enarbler). Berikutnya, Strategi 5, integrasi ekonomi domestic ( infrastruktur konektivitas: superhub, hub laut, hub udara, domestic value chain) dan Strategi 6, Ibu Kota Nusantara (sumber pertumbuhan baru, menyeimbangkan ekonomi antar wilayah). Keenam strategi tersebut diharapkan akan didukung oleh stabilitas ekonomi makro, sistem pendanaan, pasar yang kompetitif, dan reformasi birokrasi.

Tantangan pengelolaan hutan produksi diantaranya adalah rendahnya produktivitas hutan, persentase areal efektif pemanfaatan hutan rendah terfokus pada areal kerja tahunan (RKT), tingkat kelayakan usaha rendah kayu masih menjadi komoditas utama, kebutuhan lahan untuk pangan meningkat, lahan pertanian terbatas permasalahan social dan tenurial, tuntutan preferensi konsumen penggunaan produk ramah lingkungan, pemanfaatan dan kontribusi sub sektor kehutanan belum maksimal luas Kawasan hutan 66% dari luas daratan, isu perubahan iklim dan tuntutan penurunan emisi GRK. Hal diatas harus segera dicari solusi permasalahannya karena agar tercapainya pengelolaan hutan produktif yang signifikan dan manajemen hutan yang lebih baik. Menurut Global Bioeconomy Summit (2015), bioekonomi adalah produksi dan pemanfaatan sumber daya hayati berbasis pengetahuan, proses dan prinsip biologi yang inovasi untuk menyediakan barang dan jasa secara berkelanjutan di semua sektor ekonomi. Bioekonomi adalah pendorong pertumbuhan yang produktif, inklusif dan berkelanjutan, oleh sebab itu penerapan bioekonomi telah diterapkan dibeberapa negara sebagai contohnya di Thailand menerapkan model ekonomi bio-circular-green (BCG) Thailand memanfaatkan kekuatan negara dalam keanekaragaman hayati dan kekayaan budaya serta menggunakan teknologi dan inovasi untuk mengubah Thailand menjadi ekonomi berbasis nilai dan di dorong oleh inovasi, model diatas sesuai dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs)  dan Filsafat Ekonomi Kecukupan (SEP). Dengan adanya kuliah umum mahasiswa memahami bahwa pentingnya manajemen di dalam kehutanan. Acara selanjutnya dibuka sesi diskusi atau session tanya-jawab. Banyak peserta yang memberikan pertanyaan tentang materi yang telah disampaikan dan semua pertanyaan     

Mungkin Anda Menyukai