Program Kedaireka 6 Universitas tahun 2022 tentang Agroforestri Tradisional di Indonesia: Universitas Lampung, Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya, Universitas Mulawarman dan Universitas Lambung Mangkurat)

Kondisi Hutan Damar Mata Kucing (Shorea javanica sp.) 

di Pekon Pahmungan, Kabupaten Pesisisr Barat, Lampung 

(Hasil Field Visit Dosen dan Mahasiswa Universitas Lampung pada tanggal 

21 -23 Oktober 2022 dalam Rangka Program Kedaireka 6 Universitas tahun 2022 tentang Agroforestri Tradisional di Indonesia: Universitas Lampung, Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya, Universitas Mulawarman dan Universitas Lambung Mangkurat)

Damar mata kucing (Shorea javanica) merupakan salah satu sumber pendapatan utama bagi masyarakat di Desa Pahmungan. Ketergantungan pendapatan dari hutan damar telah terjadi di Desa Pahmungan secara turun-temurun. Ketergantungan masyarakat Desa Pahmungan tersebut didasarkan atas beberapa faktor seperti adat istiadat dan budaya, akan tetapi faktor utama dari ketergantungan masyarakat terhadap damar mata kucing (Shorea javanica) karena tingginya harga jual dari resin pohon tersebut. Masyarakat Desa Pahmungan menyebut sistem agroforestri yang ada yaitu dengan mengkombinasikan antara jenis pohon damar (Shorea javanica), petai (Parkia speciosa), durian (Durio zibethinus), manggis (Garcinia mangostana) dan duku (Lansium domesticum) sebagai repong damar. Kehadiran pohon-pohon tersebut digunakan oleh masyarakat dalam mendukung perekonomian mereka, sehingga masyarakat Desa Pahmungan tidak terlalu bergantung pada damar mata kucing (Shorea javanica) dibeberapa musim tertentu. Kawasan hutan damar ini biasa disebut sebagai “repong damar” dan tanamannya tumbuh secara alami di dalam hutan atau dapat dikatakan tidak dibudidayakan oleh masyarakat Desa Pahmungan.

Pemanfaatan damar mata kucing oleh masyarakat Desa Pahmungan sayangnya belum selaras dengan kegiatan pengelolaan hutan menuju lestari. Hal ini karena masyarakatnya belum mengelola atau merawat pohon damar mata kucing (Shorea javanica) secara optimal. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat desa ini dengan Tim Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Lampung yang beranggotakan Vinanda Arum Tri Kurniawan, Nur Ahmad Fadli, Lutfi Nur Latifah, Zeda Erdian dan Aryanti Rizki Adinda yang dibimbing oleh Ibu Prof. Dr. Ir. Christine Wulandari, M.P. serta didampingi oleh alumni dari Jurusan dan Prodi Magister Kehutanan yakni Destia Noviasari S.Hut., M.Hut., Dewi Rafika Sari, S.Hut. dan Bagus Saputra, S.Hut diketahui bahwa masyarakat Desa Pahmungan hanya melakukan pemupukan pada saat pohon damar mata kucing (Shorea javanica) dirasa telah layu. Pemanenan resin damar mata kucing (Shorea javanica) pun dilakukan tanpa mempertimbangkan musim atau periode tertentu, sehingga resin dari pohon ini terus dipanen sepanjang hari. Alhasil resin dari pohon damar mata kucing (Shorea javanica) semakin menurun sepanjang tahun, hal ini tentunya akan menimbulkan permasalahan ekonomi bagi masyarakat Desa Pahmungan. Kehadiran tanaman lain nyatanya kurang mempengaruhi ketergantungan masyarakat Desa Pahmungan terhadap damar mata kucing (Shorea javanica). Hal ini terjadi karena keberadaan tanaman lain atau hasil hutan ikutan di lahan kelola mereka seperti petai (Parkia speciosa), durian (Durio zibethinus), manggis (Garcinia mangostana) dan duku (Lansium domesticum) hanya dalam jumlah sedikit. Satu hektar lahan repong damar biasanya hanya terdiri kurang dari 10 batang untuk setiap jenis tanaman selain damar, sehingga keberadaan tanaman tersebut kurang mempengaruhi ketergantungan masyarakat Desa Pahmungan atas pendapatan hasil pemanfaatan dari hasil huatn ikutan tersebut.

Pemasaran dari damar mata kucing yang dilakukan oleh para petani damar dengan cara langsung datang ke pengepul untuk menjual hasil panen mereka tanpa memperhatikan grade dari damar yang mereka jual. Mekanisme penjualan biasanya dengan cara mereka akan membawa hasil panennya ke pengepul, kemudian dilakukan penimbangan, dan biasanya setiap lokasi pengepul akan menetapkan harganya menyesuaikan dengan kesepakatan antara petani damar dengan pengepul. Selain itu, di gudang pengepul damar biasanya dilakukan juga pemisahan damar berdasarkan kelas ataupun Grade. Diketahui bahwa grade terbaik pada getah damar ini ialah ABX yang dicirikan warnanya sangat cerah dan jernih. Tipe resin damar berikutnya yaitu CDX yaitu kualitasnya baik dengan cirinya hampir sama dengan tipe ABX akan tetapi terdapat perbedaan pada warnanya yaitu tidak terlalu jernih. Kemudian tipe lainnya yaitu AC, terbilang cukup baik serta tipe Debu yang kualitas resinnya kurang baik karena warnanya gelap dan teksturnya seperti debu atau pasir. Setelah dilakukan pemilihian grade ini kemudian damar ini akan dikirim ke Jakarta yang nantinya akan di ekspor ke luar negeri, dan biasanya negara yang menjadi sasaran ekspor dari damar mata kucing ini yaitu India dan China.

Harga pasar damar mata kucing pada saat ini sangat menurun harganya. Berdasarkan dari wawancara salah satu petani damar dari desa pahmungan yaitu Pak Irwan mengatakan bahwa “saat ini harga damar sangat menurun, harga per kilo yang ditawarkan oleh pengepul sebesar hanya Rp. 13.000,- saja per kilogramnya, padahal pada tahun 2016-2018 harga yang ditawarkan cukup tinggi, harga per kilo nya bisa sampai Rp. 30.000,-”. Selain itu, harga ini juga mempengaruhi kinerja kerja para petani yang jadi menurun dikarenakan harga yang ditawarkan cukup rendah dan kurang untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.  Menurut Pak Irwan, sebagian besar para petani damar banyak yang berhenti melakukan pemanenan damar tersebut serta banyak juga para petani yang mengganti pohon damar ini menjadi pohon Multi Purpose Trees Species (MPTS) yang harga produksinya lebih tinggi dari damar, diantaranya Durian, Petai dan Duku. Oleh karena itu, kondisi harga yang rendah ini dapat menjadi cermatan yang penting untuk segera dilaksanakan berbagai studi terkait pengelolaan damar mata kucing yang lestari. Semakin rendahnya produksi damar mata kucing maka berpengaruh pada popularitas damar mata kucing karena akan semakin menurun bahkan lenyap dengan tergerusnya waktu. Pengelolaan damar mata kucing ini harus segera ditingkatkan dan dikelola dengan lebih baik agar eksistensi damar mata kucing tetap terjaga. Selain itu, diharapkan adanya dukungan dari pemerintah di level nasional, provinsi  hingga tapak juga dukungan dari para mitra lainnya di tingkat nasional maupun internasional agar lokasi ini menjadi pengeskpor terbaik damar mata kucing (nomor satu di dunia) lagi seperti yang pernah dikabarkan berbagi media. 

Mungkin Anda Menyukai