Sertifikat Akredetasi BAN PT Periode 9 Januari 2015 s.d. 9 Januari 2020

Kepada Alumni Jurusan Kehutanan FP Unila diberitahukan bahwa Sertifikat Akredetasi BAN PT Periode 9 Januari 2015 s.d. 9 Januari 2020 dapat di lihat dan

Sertifikat Akredetasi BAN PT Periode 2 September 2010 s.d. 2 September 2015

Kepada Alumni Jurusan Kehutanan FP Unila diberitahukan bahwa Sertifikat Akredetasi BAN PT Periode 2 September 2010 s.d. 2 September 2015 dapat di lihat dan

Sertifikat Akredetasi BAN PT Periode 26 Oktober 2004 s.d. 26 Oktober 2009

Kepada Alumni Jurusan Kehutanan FP Unila diberitahukan bahwa Sertifikat Akreditasi BAN PT Periode 26 Oktober 2004 s.d. 26 Oktober 2009 dapat di lihat dan didownload di

Kegiatan Propti Mahasiswa Baru Jurusan Kehutanan FP Unila Tahun Akademik 2017/2018

Kegiatan Program Orientasi Perkenalan Perguruan Tinggi (Propti) mahasiswa baru Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Tahun Akademik 2017/2018 di selenggarakan pada tanggal 25 Agustus

Pengumuman Nilai Mata Kuliah PKN

Kepada Mahasiswa Jurusan Kehutanan FP Unila diberitahukan bahwa nilai Mata Kuliah PKN dapat di lihat dan didownload sebagai berikut: Nilai PKN Kht 16-17 – Copy

 

Profil Jurusan Kehutanan Unila

BANER1

Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung berdiri berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No.433/DIKTI/Kep/1999 tanggal 21 Oktober 1999. Pada tahun 2009, Jurusan Kehutanan diubah menjadi Jurusan Kehutanan. Sebagai bagian dari Universitas Lampung, maka kebijakan pengembangan Jurusan Kehutanan disusun selaras dengan visi, misi dan rencana Strategis Universitas Lampung.  Hutan adalah suatu tipe vegetasi yang didominasi oleh pohon dan memiliki iklim mikro yang berbeda dengan di sekitarnya. Dibanding dengan sumberdaya alam lain, hutan memiliki karakteristik yang khas. Selain sebagai penghasil hasil hutan, baik berupa kayu dan hasil hutan non kayu, hutan memberikan jasa-jasa lingkungan yang tidak diberikan dan tidak dapat digantikan oleh sumberdaya yang lain. Jasa-jasa lingkungan tersebut antara lain sebagai pengatur tata air (fungsi hidroorologi), penghasil oksigen, penyerap dan penyimpan karbon, pemelihara kesuburan tanah (sebagai pompa hara), pemelihara stabilitas iklim, habitat berbagai flora, fauna, dan mikroorganisme, dan lain-lain. Secara ekonomis, jasa-jasa hutan tersebut bahkan jauh melebihi nilai produk hasil hutan berupa kayu dan hasil hutan non kayu. Karena pentingnya jasa-jasa lingkungan hutan bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya, hutan sering dikatakan sebagai sistem pendukung kehidupan (life support system).  Sesuai dengan perkembangan zaman, prinsip pengelolaan hutan telah mengalami beberapa perubahan, yaitu era prinsip kelestarian hasil (sustained yield prinsiple), era prinsip manfaat ganda (multiple use of forest principle), dan era prinsip pengelolaan hutan lestari (sustained forest management). Dalam prinsip pengelolaan hutan lestari, hutan dipandang sebagai ekosistem yang secara utuh harus memberikan manfaat ekonomis, ekologis dan sosial bagi manusia, baik generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Penerapan prinsip tersebut memerlukan pemahaman dan penerapan berbagai bidang ilmu secara komprehensif.  Sejalan dengan perkembangan populasi dan tingkat kesejahteraan manusia, kebutuhan akan sumberdaya hutan, baik barang maupun jasa semakin meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sumberdaya hutan dieksploitasi hingga melebihi kapasitas memperbaharui dirinya. Akibatnya, ketersediaan sumberdaya hutan semakin kecil. Di sisi lain, akibat kebutuhan lahan untuk berbagai kebutuhan hidup manusia, ketersediaan lahan (kawasan hutan) semakin menurun, sementara tekanan terhadap lahan (kawasan) hutan semakin meningkat. Tantangan kehutanan saat ini dan pada masa yang akan datang adalah “bagaimana meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil hutan, baik barang maupun jasa, pada lahan (hutan dan atau kawasan hutan) yang semakin terbatas”. Peningkatan kuantitas dan kualitas hasil hutan, memerlukan pengetahutan dan teknologi budidaya hutan intensif yang mampu melipatgandakan produksi hasil hutan, baik kayu maupun non kayu, dengan kualitas yang semakin meningkat. Peningkatan kuantitas dan kualitas jasa hutan memerlukan pemahaman tentang sistem ekologi alami hutan sehingga kita mampu memodifikasi sistem tersebut bagi peningkatan fungsi ekologis dan peningkatan jasa hutan, baik pada tingkat lokal, regional, nasional, maupun global. Peningkatan kuantitas dan kualitas olahan hasil hutan memerlukan pengetahuan dan pemahaman tentang sifat-sifat produk hasil hutan (kayu dan non kayu), serta pengetahuan dan teknologi tentang pengolahan dan peningkatan mutu hasil hutan sehingga kita dapat merancang pemanfaatan hasil hutan secara lebih efektif dan efisien, termasuk mencegah atau memperkecil terjadinya limbah.  Selain ketersediaan hutan dan atau kawasan hutan yang semakin terbatas, sebagian besar hutan dan atau kawasan hutan yang tersedia kondisinya rusak. Kawasan hutan hutan lindung tidak lagi bervegetasi hutan sehingga fungsi lindungnya menurun. Kerusakan fungsi lindung hutan dapat diindikasikan oleh debit sungai-sungai yang semakin fluktuatif; pada musim hujan terjadi banjir, sedangkan pada musim kemarau terjadi kelangkaan air. Kerusakan hutan produksi dapat diindikasikan dengan semakin langkanya ketersediaan kayu pertukangan, sehingga harga kayu semakin meningkat. Tingginya harga dan rendahnya ketersediaan kayu telah mendorong terjadinya illegal logging, baik di kawasan hutan lindung maupun kawasan konservasi. Kerusakan kawasan hutan konservasi antara lain diindikasikan oleh sering terjadinya konflik antara satwa dengan manusia. Oleh karena itu, tantangan saat ini dan pada masa yang akan datang adalah “bagaimana merehabilitasi hutan dan atau kawasan hutan, baik hutan produksi, hutan lindung, maupun hutan konservasi agar kembali dapat berfungsi maksimal sesuai dengan fungsi dan peruntukannya’’.  Pengalaman dalam pembangunan kehutanan selama ini, kemampuan pemerintah, baik sumberdaya manusia maupun dana semakin terbatas. Kemampuan Pemerintah dalam merehabilitasi hutan lebih kecil dibandingkan dengan laju kerusakan hutan yang terjadi. Oleh karena itu, tantangan lainnya dalam pembangunan kehutanan adalah “bagaimana mengaktualisasikan dan meningkatkan partisipasi parapihak, khususnya masyarakat sekitar hutan dalam pembangunan kehutanan”. Peningkatan peran serta parapihak memerlukan upaya-upaya peningkatan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sehingga mereka memiliki persepsi dan sikap yang positif dan mendukung serta mau dan mampu berpartisipasi dalam Pembangunan Kehutanan.  Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Unila (FP Unila) merupakan jurusan yang mendidik mahasiswa untuk menjadi Sarjana Kehutanan (S.Hut.) dan Magister (M.Si) Bidang Kehutanan. Sarjana dan Magister Kehutanan yang dihasilkan oleh PS Kehutanan FP Unila diharapkan menjadi intelektual yang memiliki dan memahami pengetahuan tentang hutan dan kehutanan, bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, memahami dan menjiwai Pancasila. Sarjana dan Magister Kehutanan yang dihasilkan PS Kehutanan FP Unila diharapkan mampu berperan, baik sebagai pengusaha, peneliti, penyuluh, analis kebijakan pembangunan kehutanan maupun birokrat (sebagai pelaksana dan atau pengambil kebijakan) yang pemikiran dan tindakannya selalu didasari oleh ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa dan sila-sila pancasila. Sebagai pengusaha ia diharapkan mampu penghasilkan produk-produk kehutanan, baik berupa barang maupun jasa yang bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan bangsa. Sebagai peneliti ia diharapkan mampu menghasilkan pengetahuan dan teknologi yang dapat memelihara dan meningkatkan fungsi hutan (ekokomi, ekologi, dan sosial) serta produk-produk hasil hutan, baik berupa barang dan jasa hutan secara efektif dan efisien. Sebagai penyuluh ia diharapkan mampu menjadi agen pembaharu yang dapat memberikan pengetahuan tentang hutan dan kehutanan kepada masyarakat dan mampu mengubah persepsi, sikap, dan perilaku masyarakat sehingga mereka juga mau dan mampu melaksanakan usaha-usaha kehutanan secara sendiri-sendiri atau kelompok dan atau mendukung usaha-usaha kehutanan yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Sebagai analis kebijakan kehutanan ia diharapkan mampu menganalisis secara kritis kebijakan yang ada serta mampu merumuskan berbagai alternatif kebijakan pembangunan kehutanan. Sebagai birokrat ia diharapkan mampu melaksanakan regulasi-regulasi dan kebijakan-kebijakan yang ada secara konsisten serta mampu merancang kebijakan-kebijakan untuk mendukung tercapainya pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management).  Dalam upaya menghasilkan Sarjana dan Magister Kehutanan dengan kualifikasi tersebut, PS Kehutanan FP Unila menetapkan visi dan misi yang diharapkan dapat menjadi motivator dan menentukan arah bagi upaya-upaya konkrit yang akan ditempuh. Selanjutnya dalam upaya merealisasikan visi dan misi tersebut secara efektif dan efisien, Jurusan Kehutanan FP Unila merencanakan berbagai upaya yang dituangkan dalam Rencana Strategis Jurusan 2013-2018.

Rudi Hilmanto 3-001Rudi HilmantoDSCN1638Rapat Rutin Rabuan Jurusan Kehutanan Unila10380534_1426588470940711_7369604715763189012_o

 

 

Design Downloaded from free wordpress themes | free website templates | Free Web Icons.